Halalbihalal Syawal 1447 H, PDI Perjuangan Jatim Tegaskan Kedekatan Historis dan Ideologis dengan NU

- Editorial Team

Minggu, 12 April 2026 - 14:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: MH. Said Abdullah Ketua DPD PDIP Jawa Timur

Foto: MH. Said Abdullah Ketua DPD PDIP Jawa Timur

Surabaya, Suaradara.com – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDI Perjuangan Jawa Timur kembali menegaskan kedekatan historis dan ideologisnya dengan Nahdlatul Ulama (NU) dalam momentum Halalbihalal Syawal 1447 Hijriah, Minggu (12/4/2026).

Ketua DPD PDI Perjuangan Jatim, Said Abdullah, menyebut Jawa Timur sebagai basis kuat perpaduan “ijo-abang” atau kekuatan santri dan nasionalis.

Menurutnya, santri merepresentasikan basis NU, sementara “abang” mencerminkan kekuatan nasionalis yang selama ini menjadi basis PDI-P.

“Dua kekuatan ini sudah mengakar hingga ke tingkat kampung di Jawa Timur,” ujar Said dalam keterangan resminya.

Said menjelaskan, pembelahan sosial antara santri dan abangan yang pernah menguat sejak era 1950-an kini mulai mencair. Bahkan, sejumlah survei nasional menunjukkan banyak pemilih yang mengidentifikasi diri sebagai warga NU menyalurkan suaranya kepada PDI Perjuangan.

Baca Juga:  Festival Tani Ganding 2026 Dibuka, Wakil Bupati, Bisa Jadi Pilot Project Event Kecamatan

“Atas dasar itu, PDI-P, khususnya di Jawa Timur, tidak akan meninggalkan NU,” tegasnya.

Ia menilai, secara sosial santri dan abangan memiliki banyak kesamaan. Keduanya, kata dia, sama-sama menghadapi tantangan ekonomi dan keterbatasan akses pendidikan serta pekerjaan yang layak.

Lebih lanjut, Ketua Banggar DPR RI tersebut, memaparkan pembagian peran antara NU dan PDI-P. NU berperan dalam pemberdayaan umat, sementara PDI-P menjalankan fungsi politik melalui kebijakan di tingkat daerah hingga pusat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Menurut Said, kedua pihak juga memiliki kesamaan nilai ideologis, terutama dalam menjunjung Islam wasathiyah atau Islam moderat yang mengedepankan keseimbangan, keadilan, dan toleransi serta menolak segala bentuk ekstremisme.

“PDI-P juga berpegang pada prinsip tersebut dalam menjalankan politik. Kami ingin Islam hadir sebagai rahmat yang menenangkan, bukan menakutkan, terutama bagi kelompok minoritas,” jelasnya.

Baca Juga:  Pengentasan Kemiskinan di Sumenep Tak Cukup dengan Bansos, Bappeda Dorong Kemandirian Ekonomi

Dalam kesempatan itu, Said juga membuka ruang bagi tokoh-tokoh NU untuk berkiprah di PDI Perjuangan. Ia menyebut sejumlah kader dari kalangan NU yang telah bergabung, baik di tingkat daerah maupun nasional.

“Kami berharap para kiai, gus, bu nyai, dan ning dapat berijtihad politik bersama PDI-P,” katanya.

Ia menambahkan, keterlibatan tokoh NU di dunia politik tidak hanya berdampak pada perbaikan kehidupan beragama, tetapi juga memperluas manfaat sosial bagi masyarakat.

Said juga mengulas sejarah halalbihalal yang menjadi bagian penting dalam tradisi politik Indonesia. Ia menyebut istilah tersebut diperkenalkan oleh KH Abdul Wahab Hasbullah kepada Presiden Soekarno pada 1948 sebagai sarana meredakan konflik politik saat itu.

Baca Juga:  PMII UPI Serahkan Policy Brief Pusat Informasi KKKS Migas ke SKK Migas Jabanusa

Selepas Idulfitri tahun tersebut, Soekarno kemudian mengundang tokoh-tokoh politik ke Istana Negara untuk bersilaturahmi dalam forum yang dikenal sebagai halalbihalal.

“Tradisi ini menjadi cara para pendiri bangsa merawat persatuan di tengah perbedaan,” ujarnya.

Ia menilai, halalbihalal tidak sekadar ajang silaturahmi, tetapi juga sarana untuk meredam ego, membangun kejujuran, dan memperkuat persatuan.

Di tengah perkembangan era digital, Said juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap fenomena “post-truth” atau kaburnya batas antara kebenaran dan kepalsuan, terutama di media sosial.

Menurutnya, masyarakat perlu memperkuat budaya tabayun, menjaga silaturahmi, serta mengedepankan akal sehat dan hati nurani dalam menyikapi informasi.

“Dalam politik, kami berkomitmen menjaga nilai kejujuran, tidak menghasut, membuka ruang dialog, dan tetap rendah hati dalam perjuangan,” tandasnya.@ (***)

Facebook Comments Box
Follow WhatsApp Channel suaradara.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Festival Banjari Al-Habsyi Piala DRT The Big Family Digelar, Puluhan Grup Siap Unjuk Kemampuan
Mutu Persalinan dan Ketepatan Pelaporan Kematian Ibu-Bayi, Jadi Perhatian Dinkes P2KB Sumenep
Dinkes P2KB Sumenep Bina Kader Posyandu di Desa Poteran
Dinkes P2KB Sumenep Perkuat Peran Kader Posyandu dalam Pembudayaan Hidup Bersih dan Sehat
Dinkes Perkuat Sinergi Lintas Sektor, Fokus Pencegahan Penyakit dari Tingkat Keluarga
Ikhtiar Spiritual, Bupati Sumenep Ajak ASN Baca Surat Al-Waqi’ah
Pemkab Sumenep Terbitkan SE Pakaian Santri bagi ASN dan Non ASN
Festival Musik Tong-Tong se-Madura Semarak, Diskominfo Sumenep Gaungkan Kampanye Digital Lewat “Nongtong Bareng”

Berita Terkait

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 12:07 WIB

Festival Banjari Al-Habsyi Piala DRT The Big Family Digelar, Puluhan Grup Siap Unjuk Kemampuan

Rabu, 21 Oktober 2026 - 16:42 WIB

Mutu Persalinan dan Ketepatan Pelaporan Kematian Ibu-Bayi, Jadi Perhatian Dinkes P2KB Sumenep

Rabu, 21 Oktober 2026 - 16:28 WIB

Dinkes P2KB Sumenep Bina Kader Posyandu di Desa Poteran

Rabu, 21 Oktober 2026 - 15:56 WIB

Dinkes P2KB Sumenep Perkuat Peran Kader Posyandu dalam Pembudayaan Hidup Bersih dan Sehat

Rabu, 21 Oktober 2026 - 12:23 WIB

Dinkes Perkuat Sinergi Lintas Sektor, Fokus Pencegahan Penyakit dari Tingkat Keluarga

Berita Terbaru

Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Sumenep memperkuat pembudayaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) melalui kegiatan supervisi fasilitatif bagi kader Posyandu di Desa Poteran, Kecamatan Talango

Berita

Dinkes P2KB Sumenep Bina Kader Posyandu di Desa Poteran

Rabu, 21 Okt 2026 - 16:28 WIB