Kalau NU Terpuruk Gara-Gara Alumni HMI, Berarti Kaderisasi PMII Tak Pernah Berhasil?

- Editorial Team

Senin, 31 Agustus 2026 - 05:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Moch Thoriqil Akmal B, S.H

OPINI, Suaradara.com – Jombang kembali menjadi panggung perdebatan tentang NU. Dalam sebuah kegiatan di Jombang, Muhaimin Iskandar alias Cak Imin menyebut bahwa NU mengalami keterpurukan dalam lima tahun terakhir karena dipimpin oleh alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Pernyataan itu kemudian memantik kritik, terutama karena membawa-bawa latar belakang organisasi seseorang sebagai ukuran keberhasilan sebuah organisasi sebesar NU.

Menarik.

Kalau logika itu dipakai, mungkin nanti kualitas NU tidak lagi diukur dari seberapa kuat pendidikan pesantren, seberapa hidup tradisi keilmuan, seberapa besar manfaat sosialnya, atau seberapa kokoh nilai Ahlussunnah wal Jamaah, tetapi cukup dengan memeriksa kartu tanda anggota organisasi mahasiswa seseorang.

Alumni HMI: salah. Alumni PMII: benar. Begitu sederhana?

Kalau begitu, sejarah organisasi memang bisa dibuat seperti menu prasmanan: bagian yang cocok diambil, bagian yang tidak cocok ditinggalkan.

Kepada Cak Imin, barangkali perlu diingatkan satu hal sederhana: HMI bukan musuh NU, PMII bukan lawan HMI, dan NU bukan milik satu kelompok politik.

Bahkan dalam sejarah kelahiran PMII, hubungan dengan HMI tidak bisa dipisahkan begitu saja. PMII memang lahir dari aspirasi mahasiswa NU dan secara resmi berdiri pada 17 April 1960. Namun, salah satu tokoh penting dalam fase awal PMII, Mahbub Djunaidi, memiliki pengalaman di HMI sebelum kemudian menjadi Ketua Umum pertama PMII. Sejumlah sumber sejarah PMII juga mencatat adanya mahasiswa NU yang sebelumnya beraktivitas di HMI.

Baca Juga:  Tempo Berjudi di Madura

Jadi, kalau hari ini ada yang begitu bersemangat mempertentangkan HMI dengan PMII, pertanyaannya sederhana:

Apakah sejarah akan dihapus hanya karena tidak cocok dengan kepentingan hari ini?

Gus, tanpa dinamika intelektual yang pernah mempertemukan kader-kader NU dengan HMI, perjalanan sejarah PMII tentu akan berbeda. Jadi jangan sampai PMII dibanggakan sebagai rumah kaderisasi, tetapi pintu sejarahnya sendiri dikunci dari dalam.

Namun perlu juga jujur secara sejarah: tidak tepat mengatakan PMII secara kelembagaan didirikan oleh HMI. PMII lahir dari aspirasi mahasiswa NU dan memiliki 13 tokoh yang dikenal sebagai pendiri. HMI lebih tepat disebut sebagai bagian dari konteks sejarah dan pengalaman sejumlah tokoh, bukan sebagai pendiri kelembagaan PMII.

NU bukan organisasi yang boleh dipersempit menjadi arena rebutan pengaruh NU berdiri bukan untuk menjadi kendaraan ambisi seseorang.

Tujuan NU jauh lebih besar daripada sekadar siapa yang duduk di kursi kepemimpinan. NU memiliki akar kuat pada Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), dengan tradisi keilmuan dan bermadzhab. Dalam khazanah pemikiran NU, nilai yang dikembangkan antara lain tawassuth (moderat), tasamuh (toleran), i’tidal (adil), serta semangat ishlah dan kemaslahatan.

Baca Juga:  Merdeka di Tiang Bendera

Tujuan NU juga tidak berhenti pada urusan internal organisasi. NU diarahkan untuk memelihara, melestarikan, mengembangkan dan mengamalkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah, sekaligus mendorong kemaslahatan masyarakat, kemajuan bangsa, harkat dan martabat manusia serta menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Maka, ketika ada persoalan di tubuh NU, yang seharusnya dibicarakan adalah gagasan, program, tata kelola, kaderisasi, pelayanan umat dan masa depan organisasi.

Bukan “Dia alumni HMI, maka NU terpuruk.” Itu terlalu sederhana untuk organisasi sebesar NU.

Kalau alumni HMI memimpin lalu dianggap masalah, lalu bagaimana dengan alumni PMII yang memimpin tetapi tetap mungkin melakukan kesalahan?

Apakah kesalahan seseorang otomatis menjadi kesalahan seluruh almamaternya? Tentu tidak.

Sama seperti kalau ada kader PMII masuk politik lalu kebijakannya dikritik, bukan berarti seluruh PMII harus ikut dipersalahkan.

NU Rahmatan lil Alamin, bukan Rahmatan lil Muhaimin Ini bagian yang paling penting.

NU adalah organisasi keagamaan yang usianya jauh lebih panjang daripada karier politik siapa pun.
NU lahir dari ulama, pesantren, tradisi keilmuan dan perjuangan kebangsaan. Ia bukan perusahaan pribadi. Bukan kerajaan keluarga. Bukan pula kendaraan politik yang bisa diberi stempel: “Ini wilayah saya.”

Baca Juga:  Jaksa dan Polri Bugil di Tengah Jalan

Karena itu, kalau ingin berbicara tentang NU, mari gunakan bahasa yang lebih NU: tabayyun, tawassuth, tasamuh dan kemaslahatan.
Jangan sampai semangat menyelamatkan NU justru berubah menjadi semangat menguasai NU.

NU itu Rahmatan lil Alamin, Gus. Bukan Rahmatan lil Muhaimin.

Dan kepada semua kader baik HMI, PMII maupun organisasi lainnya mungkin sudah waktunya berhenti sibuk menghitung siapa alumni siapa.

Sebab umat tidak terlalu peduli seseorang dulu memakai jas almamater warna apa.

Umat lebih membutuhkan jawaban
Apa yang sudah dilakukan untuk mereka? Karena pada akhirnya, organisasi besar tidak akan terpuruk hanya karena seseorang berasal dari HMI. Dan organisasi juga tidak otomatis berjaya hanya karena dipimpin alumni PMII.

Yang membuat organisasi besar adalah integritas pemimpinnya, kualitas kadernya, kekuatan gagasannya dan manfaatnya bagi umat serta bangsa.

Selebihnya?

Jangan-jangan yang sedang terpuruk bukan NU-nya, tetapi cara kita memahami NU.

Penulis: Moch Thoriqil Akmal B, S.H,. Jurnalis Jatim.newsline.id

Facebook Comments Box
Follow WhatsApp Channel suaradara.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dari Ruang Kelas Menuju Kegelapan DPO, Jejak Sang Pendidik Yang Luntur
Surat AI Pada Presiden dan Menhan
Tempo Berjudi di Madura
Merdeka di Tiang Bendera
Merdeka di Bendera; Kemerdekaan yang Dirayakan, Keadilan yang Dipertanyakan
Sumenep Kepulauan: Mengganti Nama atau Mengganti Nasib?
Polresta Sumenep: Pangkat Naik, Pintu Informasi Turun
Jaksa dan Polri Bugil di Tengah Jalan
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 22:10 WIB

Dari Ruang Kelas Menuju Kegelapan DPO, Jejak Sang Pendidik Yang Luntur

Kamis, 1 Oktober 2026 - 15:51 WIB

Surat AI Pada Presiden dan Menhan

Sabtu, 12 September 2026 - 21:36 WIB

Tempo Berjudi di Madura

Senin, 31 Agustus 2026 - 05:47 WIB

Kalau NU Terpuruk Gara-Gara Alumni HMI, Berarti Kaderisasi PMII Tak Pernah Berhasil?

Senin, 17 Agustus 2026 - 04:35 WIB

Merdeka di Tiang Bendera

Berita Terbaru

Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Sumenep memperkuat pembudayaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) melalui kegiatan supervisi fasilitatif bagi kader Posyandu di Desa Poteran, Kecamatan Talango

Berita

Dinkes P2KB Sumenep Bina Kader Posyandu di Desa Poteran

Rabu, 21 Okt 2026 - 16:28 WIB